Sunday, April 9, 2017

Danur: I can see ghost (2017) film review


Gue udah ngikutin risa saraswati dari dia masih di homogenic di tahun 2005an dan pas ngeluarin ep story of peter bareng sarasvati langsung suka, jarang kan ada band yang gothic-gothic begitu.

Begitu risa ngeluarin buku danur, langsung beli dan begitu terus sampe buku terakhirnya. Ga ada yang kelewat. Eh ada deh satu, apa ya namanya, warna biru covernya. Oh iya Ananta Prahadi.

Begitu denger danur mau dibikin film antara senang dan ragu. Ini seharus kan jadi film horor tapi cerita Risa di buku-buku nya sama sekali bukan horor. Kayanya bakalan jadi cheesy, dan ternyata bener aja kejadian.

Gue baru tau Risa ga tau menahu soal skrip film pas nonton interview di channel MD picture, yah bakalan ga sama kaya novelnya deh, tapi toh kan kebanyakan film yang diangkat dari novel juga ga sama plek sama novelnya, ditambah lagi sutradaranya Awi Suryadi yang bikin badoet, harapan bakal keren timbul lagi, tapi pas inget dia juga yang bikin wewe & JKT48 movie langsung drop lagi hahahahahaha.

Yaudah lah pokoknya gue mau nonton tanpa ekspektasi tinggi

Gue nonton di row A dan Row B bawah gue kosong sekitaran 5 kursi dan ternyata itu gimmick pemasaran film ini, itu jadi kursi 'tribute' untuk Peter CS. Iiiih jadi atut.

Film dibuka oleh Risa yang diperanin sama Prilly Latuconsina lagi duduk di depan piano dengan muka sembab abis mewek, apakah dia baru aja diputusin sama pacar? O o tunggu dulu.

Kemudian adegan berganti, sekarang flashback Risa masih kecil dan lagi duduk di meja makan bareng ibu nya, Eli (Kinaryosih) yang kalo diliat dari baju nya adalah seorang pegawai negeri.

Percakapan diantara ibu sama anak ini standar sinetron lah, ga genuine percakapan ibu-anak di hari ulang tahun anaknya.

Kemudian adegan berganti lagi jadi adegan Risa yang tiup lilin ulang tahun sendirian karena ibu nya yang tadi pagi janji mau pulang cepet ternyata belum dateng juga.

Adegan barusan agak aneh, kenapa Risa harus sendirian, padahal ada dua pembantu di rumah itu, at least mereka harusnya ada disana lah, ooh supaya terkesan Risa antisosial ya? Okedeh gapapa

Doa Risa kecil sangat sederhana, dia cuma mau punya teman, beruntung kau Risa, sepertinya doa nya langsung didengar Tuhan, setelah itu Peter, William & Janshen muncul.

Apapun alasannya, ini sudah melenceng dari novel Danur, karena sebenarnya teman hantu Risa ada 5, selain 3 nama itu ada Hendrick dan satu lagi lupa nanti googling dulu ya.

Ini kan film Ran, gabisa sedetail novel dong. Oooh gitu? Kalo novel harry potter karakter Ron Weasley hilang kira-kira gimana tuh?

Tapi yaudah gapapa, 3 hantu aja cukup deh. Oh iya, menurut Risa sebenarnya sebelum MD udah ada beberapa PH yang nawarin untuk danur dijadiin film tapi semua ditolak karena gabisa menuhin syarat dari Risa & 5 teman hantu nya, yaitu jadiin 5 hantu itu sosok pahlawan dan hanya MD aja yang bersedia.

Hantu jadi pahlawan? Pasti cheesy, betul. Cheesy banget, malahan porsi si hantu-hantu ini sedikit banget dan ternyata juga ga pahlawan-pahlawan amat, karena terjadi kontradiktif antara peran mereka saat Risa kecil dan saat Risa dewasa. Beneran asal jadi aja nih skripnya.

Selain itu hal yang bisa dikritisi adalah timeline terjadi nya film ini, kalau ini adalah cerita yang diambil dari buku Danur harusnya film nya juga ngambil setting waktu sesuai sama buku nya dong, tapi ternyata engga, ibu nya Risa punya handphone baru, dan plat nomor mobil juga plat mobil baru. Entah lah.

Saat ini ditulis, sudah lebih dari 1.5jt penonton yang nonton danur di bioskop, gue cukup yakin 75% adalah fans prilly latuconsia dan sepertinya akan naik terus jumlah penontonnya sampai hampir 2jt.

Gue berharap kalau misalnya buku Risa Saraswati mau difilmkan setidaknya Risa tau ceritanya walaupun bukan dia yang menulis.

Untuk akting Prilly bagus kok, jadi fans nya jangan marah-marah ya.

Overall bintang 2.5 dari 5 bintang

Saturday, April 8, 2017

BERTOLERANSI

Berawal dari pertanyaan seorang teman yang cukup menggelitik

"Lo ga ikutan demo-demo bela islam Ran?"

Gue saat itu menjawab bahwa Allah, Tuhan gue ga butuh dibela, gue kaya anak SD yang coba bantuin penelitian Profesor. Ga ngaruh. Kemudian ternyata ada pertanyaan kedua yang lebih menggelitik

"Lo Islam apa Ran?"

Saat itu gue malah bingung sendiri dan mikir gue ini Islam apa ya kira-kira dan apakah gue harus menggolongkan diri gue sebagai Islam tertentu, padahal gue tau seharusnya penggolongan dalam Islam itu ga ada.

Tapi gue jadi penasaran, gue ini Islam apa ya sebenarnya.

Atau malah gue munafik karena gue merasa Allah tidak perlu dibela? Mungkin bukan, tapi banyak pelabelan begitu akhir-akhir ini kan?

Kemudian hal ini bikin gue berpikir ternyata toleransi beragama bukan hanya antar orang yang berbeda agamanya, tapi juga antar orang yang beragama sama namun berbeda pandangan dalam beragamanya, dan gue rasa ini lebih urgent karena hal ini malah mengakibatkan orang di luar agama tersebut berpandangan bahwa agama tersebut tidak bisa bersatu bahkan dengan sesama pemeluk agama itu.

Gimana logika nya kita bisa bertoleransi agama antar umat beragama kalau umat di agama itu tidak bisa bertoleransi?

Ini murni pendapat pribadi gue aja ya, kadang diam lebih baik daripada bersuara tapi membuat kondisi tidak kondusif, bukan kah lebih baik jalan bersama-sama dan saling berpegangan tangan itu lebih baik daripada saling pukul? Padahal ternyata yang dibela adalah sesuatu yang sama, tapi memang beda aja cara kerjanya.

Tapi itu tetap menyisakan pertanyaan yang sama: gue ini Islam apa?

Kemudian gue merenung dan mencoba kembali ke masa-masa gue SMP, saat itu gue bersekolah di SMP yang bersistem pesantren, bukan ini yang mau gue ceritakan sekarang, tapi kebiasaan gue dan teman-teman saat jam pelajaran kosong. Kami hampir selalu ke ruang multimedia sekolah untuk menonton dvd entah itu dvd Harun Yahya, sejarah Nabi, kerusuhan poso sampai debat agama. Hal terakhir adalah sesuatu yang sangat gue nikmati, disitulah gue mulai mengenal Syeikh Ahmad Deedat, seorang India yang hapal hampir semua kitab suci agama besar di dunia. Beliau sering melakukan debat agama dengan pemuka agama lain, mostly Kristen.

Sebagai anak pesantren dengan fasilitas hiburan yang sangat minim, gue selalu menikmati waktu-waktu nonton dvd ceramah dan debat agama beliau, hebat banget bisa debat sama agama lain dengan 'senjata' kitab agama tersebut, bukan Al Quran, karena ya buat apa debat sama agama lain tapi 'senjata' nya Al Quran, kan orang itu ga percaya Al Quran, sampai ada saat nya gue mau jadi seperti beliau, menggeluti ilmu perbandingan agama, walau ga gue seriusin.

Setelah nonton debat antar agama Syeikh Ahmad Deedat, ada seorang teman yang ngasih gue sebuah buku, judulnya The choice dengan nama Ahmad Deedat sebagai penulisnya, senang banget ditambah lagi ada bagian di buku itu dengan nama "bibel combat kit" yaitu sebuah bab yang bisa jadi acuan untuk berdebat dengan non islam, dan saat itu kebetulan gue punya pacar yang beragama kristen atau katolik gue lupa, dan dia cukup taat dan paham dengan dalam agamanya, saat itu setiap kami ada kesempatan berkomunikasi, kami selalu menyempatkan debat agama, konyol memang tapi seru hahaha.

Sepertinya saat itu semua debat Syeikh Ahmad Deedat yang tersedia di direktori DVD SMP gue sudah gue tonton semua dan saat itu belum jamak youtube jadi agak susah untuk mencari lagi video debat beliau, dan ternyata beliau juga sudah meninggal pada tahun 2005 setelah sakit stroke selama 9 tahun, which is selama ini gue hanya menonton video beliau yang lama.

Setelah menjauh dari hal-hal yang berbau perbandingan agama dan teologi, gue akhirnya mulai nonton ceramah Dr. Zakir Naik saat SMA yang konon beliau mengaku sebagai murid Syeikh Ahmad Deedat, overall beliau berdua cukup mirip dan gue sangat happy nonton ceramahnya.

Sampai akhirnya gue berkesempatan nonton Dr. Zakir Naik secara live di Ponorogo hari Selasa kemarin tanggal 4 April 2017 di Ponorogo dengan misi gue harus bertanya ke beliau sebenarnya gue ini Islam apa, apakah sebenarnya Islam ada cabangnya, tapi gue kurang beruntung, antusiasme penanya di ceramah beliau sangat tinggi, gue ngantri bertanya lebih dari sejam dan tetap ga ada kesempatan karena bisa dibilang panitia malam itu kurang oke dalam persiapan, kalo lo ada waktu coba tonton saat sesi tanya jawab, beliau sering kali protes karena entah microphone, monitor atau translator tidak sesuai standar ceramah beliau, alhasil sekitar satu jam dari total ceramah beliau diisi oleh protes beliau karena faktor seperti yang gue sebutin di atas.

gue pulang ke Semarang dengan pertanyaan yang masih sama.

sebenarnya gue ini Islam apa?

Kalo lo Islam apa?

Tapi bisa kah kita ga usah mengkotak-kotakan Islam itu sendiri? bisa kah kita bertoleransi agama dengan orang yang punya agama yang sama? dengan tidak mengkafirkan dan memunafikan? harusnya bisa.

Setelah itu kita bisa berbicara toleransi antar umat beragama.

Bertoleransi sesuai tuntunan agama kita.

Saling menghormati meskipun beda.

Friday, March 3, 2017

Cukup sah tanpa wah // manuskrip episode 24



Sebuah manuskrip untuk episode 24

Untuk anak-anak yang lahir di tahun 90an awal, tahun 2017 adalah tahun nya kita sering pake baju batik tiap akhir pekan nya. Undangan menikah setiap bulan hampir selalu ada. Pertanyaan kapan nikah juga mulai buat telinga merah.

Di banyak episode podcast gue sering bilang kalo gue adalah orang yang ga begitu yakin akan pernikahan, seenggaknya pernikahan usia muda, bukan karena ga siap tapi gue agak skeptis aja.

Hari Kamis tanggal 2 Maret 2017 gue janjian untuk ngobrol-ngobrol Sholeh, dia teman kuliah gue yang udah menikah. Usia saat menikahnya menurut gue cukup muda, 23 tahun. Alasan Sholeh menikah menurut gue sangat unik, di usia nya yang 23 menurut dia udah ga ada pencapaian yang lebih tinggi lagi, udah selesai S2, udah dapet pekerjaan yang oke, mulai buat bisnis. Apa lagi? Sisa menikah.

"Nikah tuh harus nya yang murah-murah aja gausah lah yang bermewah-mewah aja"

"Nikah tuh enak nya murah terus uang resepsi nya dipake honeymoon keliling eropa atau dp rumah & mobil"

Jangan ngomong gitu ke sesama orang umur 24-25 an lah, kita juga tau itu hahaha, yang ga tau kan orang tua kita. Ingat orang tua kita menganggap resepsi pernikahan anaknya sebagai sesuatu yang bisa mereka banggain lho.

Kita sih enak bisa pamer kehidupan di path, instagram, twitter and other social media out there, mereka? Gabisa.

Terus gimana? Komunikasi.

Bilang ke mereka apa yang kita mau & apa yang bisa kita kasih.

Karena yang penting sah nya, bukan wah nya.

Gue gamau nulis panjang-panjang karena nanti dianggap sotoy haha, tunggu aja di episode 24 podcast besok senin ya!

Monday, February 27, 2017

Apakah seni ada batas nya? (Tanggapan tentang #makanmayit)


Minggu malam instagram tiba-tiba heboh sama hashtag #makanmayit . Hashtag yang super creepy buat banyak orang, pas pertama baca langsung inget sama Mr Sumanto, Hannibal Lecter nya Indonesia, orang yang pernah bikin heboh Indonesia tahun 2003.

Setelah gue coba cari-cari info soal #makanmayit di twitter & instagram akhirnya end up di akun instagram nya pemilik acara #makanmayit @roodkapje a.k.a Natasha Gabriella Tontey. Pertama kali buka akun itu ternyata akunnya dilock, jadi gabisa liat apa isi nya, beruntung ada link wawancara dia sama Vice Indonesia, disitu dia cerita tentang latar belakang kenapa dia adain acara #makanmayit ini.

Gue ga mau cerita apa yang udah ada di wawancaranya dia sama vice, gue mau bahas tentang reaksi netizen di instagram & twitter tentang #makanmayit ini.

Sebelum itu, mari samakan perspektif, gue ga pro si Natasha ini dan ga juga kontra, kenapa? Buat apa gue dukung, gue ga kenal dia dan kalo gue dukung gue bakalan diserang netizen, gue ga kuat meeen diserang-serang gitu di social media, tadi aja pas gue komen "guys pada tau kan ini bukan asli" di salah satu foto yang isi nya komentar kontra acara ini, ada yang nyerang gue, dia bilang gue ga peka, ga mikirin perasaan perempuan terutama ibu.

Cmooooon gila apa gue ga mikirin perasaan perempuan terutama ibu? I'll jump from eurostar if my mom asked me, like seriously.

Jadi mari berasusmi gue netral, dan memang gue netral.

Kebanyakan netizen yang ga setuju acara ini berkomentar kalo si seniman ini gila, cendrung ke psikopat karena bisa-bisa nya ngadain acara yang gila kaya gini. Selain bentuk makanannya mirip fetus (janin) bayi, ternyata menurut Natasha, bahan baku yang dipake juga cukup ganjil, ada keju hasil fermentasi asi & roti dengan bakteri dari ketek bayi, disajikan di dalam boneka bayi yang termutilasi dan dibredel sebagai piring.

Boleh aja kok lo ga setuju sama suatu hal, sama suatu pemikiran orang, sama cara dia berprilaku atau apapun deh, asal satu, jangan fisiknya, jangan sesuatu yang dia gabisa ubah, nah gue masih liat ada netizen yang menghina si Natasha ini ke arah fisiknya, kalo kita tadi ga setuju sama dia karena dia ga peka karena pake bayi sebagai objek dan membawa-bawa embel seperti "sebagai wanita" "sebagai ibu" "sebagai orang normal" harusnya jangan hina dia ke arah fisiknya. Silakan aja ga setuju sama cara dia representasikan karya nya.

Gue orangnya agak jijik-an, dulu ada tren makan di mangkok bentuk kloset gue geli, tapi yang ini gue ga begitu jijik sih, cuma kalo diajak makan gue ga mau aja.

Komentar di akun instagram Natasha (@roodkapje) penuh sama hujatan netizen yang ga setuju dan menganggap kalo Natasha dan ekspresi seni nya udah kelewatan, kejauhan melencengnya, ga sesuai sama budaya Indonesia.

Terus timbul pertanyaan di otak gue, apakah memang seni ada batas nya atau engga? Gue gatau jawaban pasti nya apakah seni ada batasnya atau ga, tapi menurut gue sekarang adalah: seni itu ga ada batas nya, yang ada batasnya adalah pelaku seni nya. Si seniman ini punya batas sebagai manusia dengan hubungan antara sesama, budaya tempat dia melakukan pentas seni nya, dan banyak hal lainnya yang membuat si seniman itu menjadi terbatas dalam berekspresi.

Lucunya kreatifitas itu justru keluar ketika semua serba terbatas, ketika banyak tembok di sekeliling nya. Gue pernah diskusi sama temen gue tentang ini, dia menganalogikan ada 2 orang yang sama-sama hebat dalam berkesenian, yang satu dikasih semua fasilitas terbaik yang bisa didapatkan dan yang satu lagi dimasukin ke ruang isolasi dan hanya dikasih pensil dan kertas. Dua-dua nya diminta buat satu karya seni, bebas apapun juga dengan peralatan yang udah dikasih. Kalo orang pertama yang dikasi semua fasilitas bikin karya spektakuler tentu orang akan bilang wajar, karena semua fasilitas menunjang, tapi kalo orang kedua yang buat karya seni yang bagus banget (ga spektakuler) tentu orang akan sangat kagum, karena dengan keterbatasan fasilitas dia masih bisa bikin karya yang oke. 

Gue belom yakin sama jawaban yang gue temukan sih sebenernya tapi akan gue sempurnakan karena ini harus gue tau jawaban pasti nya, gue juga berkarya, gue buat sesuatu dan gue ga mau kalo ternyata karya gue malah buat gue ga nyaman, gue bukan orang yang kuat dikritik haha, kalo gue jadi kaya Young Lex atau Awkarin gitu gue ga kuat sih hahaha.

Mari bijak berkarya dan mari bijak bersosial media.

Yaudah sampe sini dulu ya, mungkin bakalan gue bahas di backstage talk episode 2 kali ya masalah ini.

Wednesday, February 22, 2017

Menunggu ada Public hearing.

Public speaking adalah salah satu ability yang ingin dimiliki oleh hampir seluruh orang di dunia, cara agar tidak grogi di depan banyak orang, berbicara dengan lancar dan hal-hal semacam itu.

Padahal kalo emang ga ada yang perlu lo omongin di depan panggung ya gausah belajar public speaking juga gapapa kan, toh ga butuh juga skill itu.

Sebenernya ada skill yang lebih penting, yaitu skill mendengarkan, bukan sembarang mendengar tapi memahami dan menghormati lawan bicara.

Gue pribadi adalah orang yang lebih sering mendengar untuk membalas, sebelum lawan bicara selesai bicara di otak gue udah ada sekian opsi jawaban untuk menjawab argumen yang lawan bicara lontarkan, kadang ditambah ucapan untuk merendahkan lawan bicara gue, for the sake of anything, I know about it but I can't resist my self to do that and I am very shame. every single time after I said something with mocking purpose, I am very shame and dead inside.

Gue sangat suka debat, karena gue sangat yakin apa yang jadi argumen gue dan gue selalu meyakini lawan debat gue itu bajingan dan ga tau apa-apa, ternyata kadang gue salah, gue cuma ngasih makan ego gue aja.

Usia belasan adalah usia ketika gue hampir ga pernah dengerin orang lain, gue kadang berantem sama orang tua karena masalah sepele, putus dari hubungan karena gue ga mau dengerin saran dari dia, I was an asshole before haha.

Sekarang gue nyoba untuk lebih banyak mendengar, mendengar untuk memahami bukan untuk membalas. Gue ga mau jadi kaya calon gubernur yang ketika debat kelihatan ga peduli apapun yang lawannya omongin kecuali nyari celah buat bales argumennya, apakah itu esensi debat? Kalo gitu mah gausah debat, toh pemilih juga udah tau siapa yang dipilih kan?

Thursday, February 16, 2017

Tutorial hidup [belum tau jadi topik di besok Senin eps berapa]

Halo! it's been awhile tidak menulis manuskrip podcast karena gue pikir sangat berat untuk konsisten menulis haha, tapi gue akan coba, semoga konsisten.

Tutorial Hidup

Akhir-akhir ini gue sering nontonin youtube nya Anugrah Aditya yang ngebahas tentang sneakers, salah satu channel keren yang entah kenapa subscribernya di bawah 10.000. He deserves more than that. Di channel itu ternyata ada satu tutorial: how to pin roll. Apa itu pin roll? Ternyata itu tutorial menggulung celana. Iya gulung celana ada tutorialnya! Ga cuma hijab yang ada tutorialnya, dan ternyata sangat bermanfaat tutorial pin roll itu buat gue.

Tapi dipikir-pikir sekarang semua ada video tutorialnya, dari hal-hal ngurus Paspor sampe ganti popok ada semua video tutorialnya, kita sekarang sebagai orang yang disebut netizen ini enak banget ya, cuma klak-klik youtube ada semua tutorialnya, youtube adalah guru terbaik sekarang, fuck you pengalaman! Youtube youtube youtube lebih dari pengalaman.

Netizen Indonesia sekarang emang lagi gandrung banget sama youtube, hobi nonton daripada baca, budaya baca makin ditinggalin.

Friday, November 18, 2016

Manuskrip untuk episode 9: Dugem

Saya ga suka dugem, walaupun beberapa kali pernah. Bukan karena suka tapi lebih untuk aksi sosial, teman-teman ngajak dugem masa ditolak hahaha.

Saya juga ga suka minum-minuman beralkohol, tapi beberapa kali minum, hmmm ga beberapa kali sih, agak sering tapi dulu, malam tahun baru 2014 sepertinya terakhir saya minum, itu juga karena malam tahun baru itu kami habiskan dengan dugem, dan itu terakhir kali nya dugem.

Sebelum bisa nyari uang sendiri, uang yang saya dapat dari orang tua cuma cukup untuk makan dan kebutuhan basic, untuk yang lain-lain harus dengan strategi. Masuk diskotik di kota Semarang kurang lebih seratus ribu rupiah, harga yang lumayan untuk makan enak. All you can eat di shabu auce hanya seratus lima belas ribu sudah termasuk pajak. See, kalo kamu masih membandingkan harga sesuatu sebelum membeli nya artinya kamu belum kaya, jadi stop boros hahahaha.

Menurut saya jangan dugem kalo uang mu pas-pasan, jangan banyak gaya kalo uang mu ga sebanyak gaya mu.

Jangan dugem dulu kalo masih naik motor matic kaya saya hahaha

Tunggu punya mobil, kalo mobil nya masih ayla juga jangan, mending buat bayar cicilan mobil

Daripada dugem mending makan di restoran all you can eat deh. Atau order Mc donalds pakai aplikasi mereka, first order dapet big mac.

Bukan sponsor, mana ada yang mau sponsorin podcast ini hahaha.

Be wise!

Friday, November 4, 2016

Manuskrip untuk episode 7: 411

Mari dimulai dengan akar penyebab nya: video bapak gubernur DKI Jakarta bapak Basuki Tjahaya Purnama a.k.a Ahok yang diupload pertama kali oleh orang bernama Buni Yani.

Isi video yang Buni Yani upload adalah perkataan Ahok yang mengatakan bahwa jangan mau dibodohi dengan Al Maidah ayat 51. Gempar lah negara ini, negara yang memegang rekor sebagai negara muslim terbesar di dunia ini.

"Jangan mau dibodohi al maidah ayat 51"

Itu isi perkataan Ahok di video yang diupload Buni Yani. Wajar sekali orang islam di Indonesia muntab hati nya, marah sekali, kitab suci nya dilecehkan

Tapi ternyata, video itu tidak lengkap. Menurut Buni Yani di sebuah acara televisi (indonesia lawyer club CMIIW) yang mengupload video tersebut, seharusnya ada kata "pakai" di kalimat yang dikatakan Ahok.

Kalimat asli nya adalah "jangan mau dibodohi pakai al maidah ayat 51"

Arti dua kalimat itu sangat berbeda.

Dan ini lah yang menjadi awal aksi pengerahan massa di tanggal 4 November.

Tapi, apapun yang Ahok katakan, dia salah. Slip tongue. Tak seharusnya Gubernur berkata seperti itu, masih banyak kalimat lain yang bisa dipakai.

Sebuah kewajaran juga ummat islam di Indonesia ingin ada keadilan di kasus dugaan penistaan agama, tapi kasus ini bahkan sudah naik ke kepolisian sebelum tanggal 4 November 2016, jadi tuntutan demonstran sebenarnya sudah dipenuhi.

Lalu apa yang diinginkan para demonstran? Tergantung. Tergantung darimana mereka berasal.

Ada yang memang ingin Ahok segera diadili, viola. Mereka dapat yang mereka mau.

Ada juga yang cuma ingin rusuh, liat demonstran setelah pukul 18.00. Bahkan mereka tidak berpakaian seperti para demonstran di siang hari. Ini sudah beda orang, ini bukan yang mengatas namakan agama. They just want watch world burned.

Ada juga tokoh-tokoh politik sakit hati yang bertujuan lain, saya tidak mau menyebut nama, tapi coba liat twit seseorang yang berada di DPR, jahat sekali. Membuat panas keadaan.

Aksi massa kemarin sangat sarat tujuan politik.

Ummat Islam yang tidak setuju demo 411

Saya salah satu nya. Saya tidak setuju karena somehow saya tau akan ada aksi kerusuhan yang bukan demonstran lakukan tapi tetap demonstran yang kena getahnya.

Kalau kita, sebagai warga Indonesia menggunakan hak kita untuk bisa mengeluarkan aspirasi dengan cara demo, bukankah kita juga harus mematuhi kewajiban kita sebagai warga Indonesia yang mengharuskan kita memahami bahwa semua pelanggaran hukum ada proses nya, tidak mungkin Ahok langsung divonis bersalah oleh pengadilan berapapun jumlah kita di jalan.

Untuk yang mengatakan siapa yang tidak mendukung demo ini padahal Islam maka Islam nya dipertanyakan, tidak cinta kepada agama dan kitab suci nya.

Dicap liberal & mendukung orang kafir.

Apakah memang hanya ada dua pilihan saja? Dukung atau dipertanyakan ke islamannya?

Padahal tidak, mereka hanya tidak suka keributan, buat apa.

Bagaimana kalau mereka bahkan tidak merasa Ahok menghina Al Quran?

Tidak semua pemahaman Agama nya tinggi. Ada yang pemahaman agama nya rendah jadi tidak melakukan apa-apa karena tidak paham, ada juga yang pemahaman agama nya rendah jadi ekstrem karena tidak memahami agama nya dengan baik.

Untuk yang tidak berdemo, jangan juga merendahkan mereka yang berdemo, kita sama. Sama-sama beragama islam, hanya beda cara pandang dan memahami sesuatu.

Lakukan yang menurut kita baik, tapi jangan membuat yang lain jadi buruk.

Dengarkan versi lengkap nya di podcast besok senin eps. 7 ya!

Wednesday, November 2, 2016

Manuskrip untuk episode 7: isu senjata api di Amerika

Bayangkan kalo zombie apocalypse terjadi di Indonesia, zombie-zombie di film walking dead ada di seluruh Indonesia, apakah akan semenyenangkan  seperti di Amerika? Belum tentu, yang jelas potensi kematian akan meningkat karena sarana pembelaan diri akan sangat sedikit dibanding di Amerika.

Zombie apocalypse terjadi di sebuah mall, di Amerika sih enak tinggal cari gun shop, dimana-mana ada. Kalo di Indonesia gimana? Di ace hardware ga dijual tuh AK47 atau glock, paling sekop atau palu aja.

Amerika adalah negara dengan jumlah pelanggaran penggunaan senjata api terbesar di dunia. Banyak banget kasus penembakan disana, yang saya ingat banget adalah kasus penembakan di bioskop pas film batman the dark night rises atau penembakan di sekolah sally oak.

Lupa hari apa saya nonton video social experiment tentang anak kecil umur 13 tahun yang beli rokok, lotere dan senjata api. Hasilnya dia dilarang beli rokok & lotere di semua tempat yang dia kunjungi dan berhasil membeli satu senjata laras panjang kurang dari 10 menit sejak ia masuk ke toko senjata.

Beruntungnya di Indonesia ga seperti itu, bisa dibayangkan ada orang Indonesia delusional yang suka nonton sepak bola eropa dan fanatik banget sama tim favoritnya kecewa karena tim nya kalah melulu dan dia bawa senjata api ke tempat nobar.

Atau fans aliando yang diceng-cengin mulu

Setidaknya jargon senggol bacok lebih baik daripada senggol dor

Monday, October 31, 2016

Manuskrip untuk episode 6: Urasawa Naoki's master piece

Nama nya Urasawa Naoki, dia mangaka Jepang, komik-komik nya sekarang udah langka banget, kalaupun ada bakalan super mahal, mau cerita tentang komik dia yang pernah saya baca.

20th century boys & 21st century boys

Pernah berkhayal jadi penyelamat dunia kan? Terus buat skenario bakalan ada alien, robot & virus yang bikin dunia hancur terus kita jadi penyelamatnya.

Gimana kalo tiba-tiba semua itu kejadian dan kita sebagai penulis skenario itu dituduh sebagai dalang itu semua? Dikejar-kejar, dituduh jadi teroris dunia.

Ps: hati-hati sama 'sahabat'

Ini karya terbaik Urasawa Naoki yang pernah gue baca.

Monster

Cerita nya tentang Dokter ahli bedah otak dari Jepang yang tinggal di Jerman nama nya Dr. Tenma, konflik dimulai saat Dr. Tenma diprotes istri pasien yang suami nya meninggal karena ga ditangani Dr. Tenma yang disuruh untuk menangani penyanyi opera.

Setelah itu ada anak kecil yang kepala nya tertembak dan di sisi lain ada walikota (atau anggota dewan) yang juga mengalami masalah otak. Dr. Tenma lebih memilih anak kecil itu karena ia datang lebih dulu.

Hal ini merubah segala nya, ia dicopot jabatannya dari rumah sakit, diperlakukan seperti dokter magang. Tiba-tiba setelah Dr. Tenma 'curhat' tentang benci nya ia kepada pejabar rumah sakit ke anak kecil yang tidak sadarkan diri setelah operasi, orang yang dibenci Dr. Tenma mati keracunan secara mendadak dan si anak laki-laki ini hilang secara misterius dan Dr. Tenma dicurigai membunuh pejabat rumah sakit itu.

Setelah itu Dr. Tenma menjadi buronan karena tuduhan-tuduhan pembunuhan yang tidak ia lakukan.

Pluto

Ini adalah project yang terjadi karena Urasawa Naoki sangat mengidolakan Osamu Tezuka (pencipta Astro boy, Adolf, Budha dll) maka nya di karya nya kali ini tokoh nya, Atom. Sangat mirip dengan Astro boy.

Inti ceritanya adalah semua robot berintelegensia tinggi tiba-tiba dihancurkan oleh suatu makhluk dan jujur saya lupa (hahaha) (berusaha jangan liat wikipedia, maaf ya lupa)

Karena saya super ngefans sama Urasawa Naoki dan Osamu Tezuka jadi nya Pluto ini sangat keren dan harus dibaca.

Karya lain Urasawa Naoki yang pernah saya baca: Yawara & Jigoro.

Kudos to Mr Urasawa Naoki!

Saturday, October 29, 2016

Manuskrip untuk episode 6: selingkuh & nikah siri

Jangan melakukan hal apapun yang kalian ga mau sampe itu dialami ibu kalian.

Mukul perempuan. Banci itu.

Ngomong kasar ke perempuan. Banci itu.

Gimana kalo selingkuh? Setiap yang berpasangan berpotensi untuk selingkuh, saya belom pernah, tapi menuju kesana pernah. Dalam relationship saya selalu berusaha untuk ga aneh-aneh, cukup tampang aja yang aneh, hubungan jangan.

Minggu ini, lupa hari apa ada acara di TV One yang membahas kasus seorang istri dan 2 anak dari anggota DPRD Aceh tewas karena granat yang dilempar ke mobil mereka.

lengkapnya disini (http://www.mediaindonesia.com/news/read/67847/istri-muda-diduga-otak-pelaku-pelemparan-granat-mobil-anggota-dprd/2016-09-20)

Pelaku nya adalah adik dari istri siri nya si anggota DPRD itu, pelaku disuruh oleh kakaknya yang sakit hati karena dia dipukulin sama anaknya si anggota DPRD itu.

Cuma jadi yang kedua, dipukulin pula. Kasihan betul.

Saya masih heran kenapa masih ada aja perempuan yang mau dinikahi siri, hak dan kewajiban jadi samar, tanpa perlindungan hukum, kaya beli handphone black market. Tanpa garansi.

Entah istri pertama tau atau tidak dia dimadu, saya juga gatau kalo laki-laki yang akan menikah lagi harus sesuai persetujuan istri pertama atau tidak. Terlepas dari boleh nya poligami dalam agama saya, jelas saya tidak akan setuju kalau ayah saya menikah lagi dan saya juga akan konsisten dengan tidak akan poligami juga, karena menikah 1x aja udah repot (hahaha)

Kalau istri pertama tau pun belum tentu setuju kan.

Penggunaan granat sebagai media pencabut nyawa juga keren menurut saya, dengan suhu politik yang sedang meninggi di Aceh karena akan ada pemilihan kepala daerah, tentu dugaan pertama adalah musuh politik si suami yang anggota DPRD. Brilian.

Mungkin karena perencanaan yang singkat dan tidak komperhensif maka dengan mudahnya dugaan pertama dipatahkan oleh polisi dan segera mengetahui siapa pelaku sebenarnya dan apa motifnya.

Akhirnya si anggota DPRD menjadi duda dan kehilangan 2 orang anak, sedangkan si istri siri terancam pidana 20 tahun sampai seumur hidup.

Jangan selingkuh.

Jangan nikah siri.

Jangan poligami kalau punya anak yang berani mukul perempuan.

Jangan poligami kalau punya istri kedua yang punya akses untuk membeli granat

Friday, October 28, 2016

Manuskrip untuk episode 6: makanan yang tidak enak dibawa take away

Indonesia itu penuh dengan bahasan klenik. Kalo tv yang jadi budaya di Amerika, di Indonesia klenik adalah budaya nya.

Apa itu klenik. Menurut KBBI klenik/kle·nik/ n cak kegiatan perdukunan (pengobatan dan sebagainya) dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang

Naitu.

"Bakso disana pake dukun tuh, dibungkus buat makan di rumah rasanya beda banget!"

"Idih jangan makan disana deh, emang enak kalo makan di tempat, kalo dibawa ke rumah jadi anyep, ga ada rasanya!"

Bisa aja rumah si pembeli jauh, jadi makanannya udah ga hangat dan jadi anyep. Bisa aja.

Banyak yang bilang kalo restoran-restoran itu pake pesugihan alias dibantu setan, konon ada setan yang ngilerin panci masakannya, ga cuma satu atau dua kali saya denger cerita model begini, gimana kalo saya jabarkan aja:

1) Cerita tentang bakso enak & mahal banget di dekat rumah bude saya di Jakarta.

Cukup Jakarta aja ya, jangan terlalu obvious (hahaha)

Konon ada setan yang ngiler di atas panci bakso mereka, info nya dari keluarga dekat dan jujur aja, bakso nya emang super enak, susah nemuin bakso seenak itu. Belom pernah bungkus ke rumah tapi ceritanya kalo bungkus dan makan di rumah rasa nya ga seenak itu.

2) Warung penyet dengan beberapa cabang di Semarang

Ceritanya lebih ekstrem dari bakso di Jakarta itu, karena setannya, dalam hal ini pocong langsung ngiler di piring pembeli. Cerita ini udah jadi cerita yang banyak orang tau

3) Angkringan pinggir kali di Semarang

Selalu rame, makanannya enak banget, kalo udah jam-jam nanggung antara malam ke subuh kadang-kadang orang-orang yang abis dugem suka kesana, lokasi nya agak kacau, pinggir kali dan agak bau.

Karena banyaknya orang yang makan disana dan kurangnya pelayan yang mengawasi, kesempatan untuk curang sangat tinggi, makan 5 ngaku 1 juga bisa, tapi hati-hati, biasanya ada balasannya.

Dengerin di podcast eps 6 ya balasannya!

Saturday, October 22, 2016

Manuskrip untuk episode 5: Ego trap

Kalo anda vegetarian dan masih suka nyinyirin orang yang masih makan daging, selamat anda masuk ego trap.

Kalo anda muslim yang solat 5 waktu dan masih suka nyinyirin orang yang solat nya bolong-bolong, selamat anda masuk ego trap.

Kalo anda penikmat stand up comedy dan merasa lebih baik dari penikmat komedi semacam pesbuker, selamat anda masuk ego trap.

Kalo anda nge gym setiap hari dan masih suka nyinyirin orang yang makan junk food tiap hari, selamat anda masuk ego trap.

Kalo anda merasa lebih baik dari orang lain karena melakukan sesuatu yang orang lain itu tidak lakukan dan nyinyirin mereka, selamat anda masuk ego trap.

Selamat ya

Friday, October 21, 2016

Manuskrip untuk episode 5: Snowden

Senin lalu setelah gagal pergi ke dufan karena suatu dan lain hal, saya dan Fani memutuskan buat nonton film Snowden.

Snowden adalah film biografi dari orang bernama Ed Snowden, mantan agen CIA bagian komputer begitu. Di film ini diperankan oleh Joseph Gordon Levitt. Inti dari film ini adalah Snowden ga kuat lagi sama fakta kalo ternyata semua orang di dunia ini diawasi sama Amerika untuk dicari kelemahannya dan dijadikan senjata untuk bernegosiasi di forum-forum internasional

Seluruh dunia. Iya Indonesia juga, CIA juga bisa liat tweet galau, now playing path tentang kode-kode ke gebetan dan semua aktifitas di gadget yang terhubung ke internet. Bahkan Amerika bisa ngebom musuh nya di timur tengah tanpa diketahui musuh nya. Gila banget.

Begitu masuk Internet semua nya udah ga ada privacy lagi, dengan kamera webcam laptop lo orang-orang itu bisa liat lo yang di entah berantah ini. Gila

Wednesday, October 19, 2016

Manuskrip untuk episode 5: menua nya si orang tua

Bapak saya tahun lalu pensiun. Umurnya 56 tahun Maret kemarin. Saya pergi 14 tahun lalu dari rumah untuk berbagai alasan, sekolah salah satu nya. Di rantau sering banget rindu tiba-tiba buat dada jadi penuh, aneh nya kalo pulang ke rumah cuma bisa semingguan, setelah itu sudah tidak rindu lagi.

Bapak saya sangat demokratis, semua anak di rumah memiliki suara yang sama saat berdiskusi menentukan arah keluarga ini, walaupun pada prakteknya kadang hasil diskusi tidak diaplikasikan  tapi gapapa itu kan hak preogratif kepala keluarga.

Dia gaptek, tapi gamau keliatan gaptek, agak susah buat menjelaskan konsep dan istilah di social media. Kalo kelahiran 1960 masuk ke generasi baby boomer, bapak saya baby boomer yang lumayan high tech, tapi tetap gaptek untuk generasi millennial. Tapi dengan ini sata bersyukur, bapak saya gak berusaha menjadi bapak-bapak yang gaul dan memaksakan gaul, dia menua dengan sederhana (hahaha)

Beberapa tahun terakhir bapak saya jadi hobi nyalahin orang walaupun dia yang salah, adu argumen sering banget kejadian antara dia dan anggota keluarga lain, ditambah lagi dia raja pelupa jadi bias dia lupa atau emang nyalahin aja (hahaha) tapi sebagai anak wajarlah ya dimarahin, ga diambil hati, kecuali lagi bad mood (hahaha)

Tuesday, October 18, 2016

Manuskrip untuk episode 5: stroke

Penyakit itu ga kenal apapun

Ada teman yang cerita kalo kakek nya mgasih gila-gilaan merokok nya, si kakek ini ngelinting sendiri, kertasnya pake kertas koran, yang otomatis dia merokok tembakau + tinta, masih sehat dan aman-aman aja.

Ada juga yang ga merokok tapi kena kanker, teman saya cerita, ada bapak muda yang anak nya meninggal karena tiap hari menghirup sisa-sisa nikotin dari baju bapaknya.

Minggu ini ada kabar sedih, teman SMA saya kena stroke, belum tau stroke berat atau ringan, tapi stroke itu kedengarannya seram banget, dia itu anak paling gemuk di angkatan SMA saya, entah berat nya berapa tapi gemuk banget.

Orang bilang gemuk itu sarang penyakit, pintu masuk penyakit.

Saya juga gemuk, terakhir nimbang 93kg, tinggi cuma 171 cm, maka nya jadi takut, padahal hampir ga pernah sakit. Saya ga merokok, minum-minum alkohol udah ditinggal 3 tahunan, tapi jarang olahraga, mager banget hahaha.

Mari berdoa untuk teman saya supaya diangkat penyakit nya dan diberi umur yang bermanfaat. Amin

Manuskrip untuk episode 5: keinginan untuk tidak mau kaya.

Saya ga mau kaya.

Bukan karena kaya itu ga menyenangkan, pasti menyenangkan bisa beli apapun yang diinginkan tanpa pikir panjang. Tapi ada yang lebih menyenangkan dari itu, galau nya mau membeli sesuatu, mau ambil atau ga ya, mau beli sekarang atau tunggu diskonan ya.

Setelah dibeli ga habis juga galau nya, kepikiran setengah mati kenapa sih harus beli padahal ga butuh-butuh amat.

Bahkan buat bikin akun soundcloud podcast besok senin jadi pro aja masih mikir-mikir (hahaha), kayanya kere banget ya

Hahaha sedih ya

Sensasi ini bertambah ketika sekarang udah punya penghasilan sendiri, mau boros tapi takut ga bisa makan enak.

Mungkin ini yang nama nya bersyukur dan prihatin (hahaha)

Kalo kaya dan punya sensasi begini kayanya jadi dibilang kikir

Makanya saya takut kaya, soalnya mental nya ga cocok

Norak ya

Manuskrip untuk episode 5: Spotify dan pemutar lagu online legal

Dulu saya suka beli cd mp3 bajakan di pinggir jalan. Rp 7000 perak sudah bisa dengerin lagu hits di mp3 player atau komputer

Kemudian internet merambah ke semua penjuru, lagu bajakan ada dimana-mana, 4shared yang paling ngetop dulu. Kesampingkan kemungkinan yang apabila lagu itu dimainkan di komputer maka akan muncul tampang seorang laki-laki yang entah siapa (suspect saya dia adalah karyawan telkom, karena bokap dan nyokap yang juga karyawan telkom yang punya seragam persis yang dipakai laki-laki itu)

Kemudian datanglah soundcloud. Walau agak mirip myspace, web & aplikasi soundcloud masih banyak digemari dan dipakai untuk menyebarkan lagu ataupun podcast ke khalayak luas. Seperti podcast besok senin ini contohnya (walaupun yang dengar cuma segitu aja)

Lalu Spotify dan JOOX, aplikasi yang memungkinkan pengguna mendengarkan lagu secara legal.

Rilisan fisik sekarang sudah ga laku lagi. Sebagian musisi ada yang masih bertahan dengan itu, sebagian lagi memilih mengalah dan hanya mengeluarkan edisi digital (sebagian juga mengeluarkan rilisan fisik tapi tidak berharap banyak) miris ya.

Sebagian membundle rilisan fisik nya semenarik mungkin, seperti Raisa & Endak Soekamti (kepsir Mr Erix!)

Sebagian membundle rilisan fisik nya dengan paket ayam dan pepsi.

Yang lain mencoba peruntungan di spotify dan JOOX. Saya belum tau apa seperti apa perjanjian mereka dengan Spotify & JOOX ini, yang jelas hampir semua orang memiliki dua atau minimal satu aplikasi tersebut di gadget mereka. Tak perlu membajak, tak menghabiskan kapasitas memory. Hanya butuh koneksi internet kemudian bisa mendengarkan lagu dengan kualitas audio yang baik dan tentu saja legal.

Spotify & JOOX membedakan pelanggannya menjadi dua: free member dan premium member. Untuk free member akan terganggu oleh iklan yang tiba-tiba terdengar saat pergantian lagu, ga usah protes kalo terganggu, gratis kok protes (hahaha). Saya pribadi adalah premium member di spotify supaya mengikuti zaman.

Entah benar atau tidak, sekarang lebih baik berlangganan sebagai premium member di spotify ataupun JOOX dibanding membeli lagu di itunes, apalagi membeli rilisan fisik, selain mahal sekarang sulit menemukan cd player kecuali di dalam mobil. Sedangkan pengguna spotify ataupun JOOX tinggal membeli kabel aux dan viola! Bisa mendengar lagu legal di mobil.

Dengan embel-embel perkembangan zaman, rilisan fisik mulai ditinggalkan, sekarang semua milik kita jadi benda digital. Uang sudah digital, data diri sudah digital, sekarang lagu pun kita ga punya wujud fisik yang berupa cd ataupun kaset.

Sedih atau bahagia?

Monday, October 17, 2016

Habis jatah upload!

Halo,

Tadi pagi ngecek jumlah orang yang ngedengerin eps.4 podcast besok Senin, lumayan udah 7 (hahaha) tapi ada yang aneh, ternyata eps.1 ga keliatan di device android yang gue pakai, curiga ga sengaja menghapus akhir nya buka laptop dan cari info, ternyata akun soundcloud gue udah limit upload time nya, akun gratisan di soundcloud cuma dikasi jatah durasi upload 3 jam aja, sedangkan tiap episode yang gue upload paling sebentar 45 menit dan paling lama 60 menit. Jadi habislah jatah akun gratisan saya.

Untuk menambah waktu upload harus beli akun pro yang seharga 7$ perbulan atau akun pro unlimited seharga 15$ yang berarti Rp 98.000 atau Rp 210.000 untuk kurs Rp 14.000 selama sebulan, bisa dibilang butuh kurang lebih Rp 25.000 sampai Rp 50.000 tiap episode nya. Harga yang harus dikeluarkan gue demi ketenaran ini (hahaha)

Berhubung project ini sama sekali tidak menghasilkan, kemungkinan gue akan menghapus tiap 2 episode terakhir supaya tetap bisa mengupload episode terbaru. Sebagai ganti nya episode yang gue hapus di soundcloud (((soundcloud.com/podcastbesoksenin))) akan gue upload ke youtube. Rencana sekarang seperti itu, semoga berjalan lancar

Thx!