Wednesday, March 22, 2017
Friday, March 3, 2017
Cukup sah tanpa wah // manuskrip episode 24
Monday, February 27, 2017
Apakah seni ada batas nya? (Tanggapan tentang #makanmayit)
Wednesday, February 22, 2017
Menunggu ada Public hearing.
Public speaking adalah salah satu ability yang ingin dimiliki oleh hampir seluruh orang di dunia, cara agar tidak grogi di depan banyak orang, berbicara dengan lancar dan hal-hal semacam itu.
Padahal kalo emang ga ada yang perlu lo omongin di depan panggung ya gausah belajar public speaking juga gapapa kan, toh ga butuh juga skill itu.
Sebenernya ada skill yang lebih penting, yaitu skill mendengarkan, bukan sembarang mendengar tapi memahami dan menghormati lawan bicara.
Gue pribadi adalah orang yang lebih sering mendengar untuk membalas, sebelum lawan bicara selesai bicara di otak gue udah ada sekian opsi jawaban untuk menjawab argumen yang lawan bicara lontarkan, kadang ditambah ucapan untuk merendahkan lawan bicara gue, for the sake of anything, I know about it but I can't resist my self to do that and I am very shame. every single time after I said something with mocking purpose, I am very shame and dead inside.
Gue sangat suka debat, karena gue sangat yakin apa yang jadi argumen gue dan gue selalu meyakini lawan debat gue itu bajingan dan ga tau apa-apa, ternyata kadang gue salah, gue cuma ngasih makan ego gue aja.
Usia belasan adalah usia ketika gue hampir ga pernah dengerin orang lain, gue kadang berantem sama orang tua karena masalah sepele, putus dari hubungan karena gue ga mau dengerin saran dari dia, I was an asshole before haha.
Sekarang gue nyoba untuk lebih banyak mendengar, mendengar untuk memahami bukan untuk membalas. Gue ga mau jadi kaya calon gubernur yang ketika debat kelihatan ga peduli apapun yang lawannya omongin kecuali nyari celah buat bales argumennya, apakah itu esensi debat? Kalo gitu mah gausah debat, toh pemilih juga udah tau siapa yang dipilih kan?
Thursday, February 16, 2017
Tutorial hidup [belum tau jadi topik di besok Senin eps berapa]
Halo! it's been awhile tidak menulis manuskrip podcast karena gue pikir sangat berat untuk konsisten menulis haha, tapi gue akan coba, semoga konsisten.
Tutorial Hidup
Akhir-akhir ini gue sering nontonin youtube nya Anugrah Aditya yang ngebahas tentang sneakers, salah satu channel keren yang entah kenapa subscribernya di bawah 10.000. He deserves more than that. Di channel itu ternyata ada satu tutorial: how to pin roll. Apa itu pin roll? Ternyata itu tutorial menggulung celana. Iya gulung celana ada tutorialnya! Ga cuma hijab yang ada tutorialnya, dan ternyata sangat bermanfaat tutorial pin roll itu buat gue.
Tapi dipikir-pikir sekarang semua ada video tutorialnya, dari hal-hal ngurus Paspor sampe ganti popok ada semua video tutorialnya, kita sekarang sebagai orang yang disebut netizen ini enak banget ya, cuma klak-klik youtube ada semua tutorialnya, youtube adalah guru terbaik sekarang, fuck you pengalaman! Youtube youtube youtube lebih dari pengalaman.
Netizen Indonesia sekarang emang lagi gandrung banget sama youtube, hobi nonton daripada baca, budaya baca makin ditinggalin.
Friday, November 18, 2016
Manuskrip untuk episode 9: Dugem
Saya ga suka dugem, walaupun beberapa kali pernah. Bukan karena suka tapi lebih untuk aksi sosial, teman-teman ngajak dugem masa ditolak hahaha.
Saya juga ga suka minum-minuman beralkohol, tapi beberapa kali minum, hmmm ga beberapa kali sih, agak sering tapi dulu, malam tahun baru 2014 sepertinya terakhir saya minum, itu juga karena malam tahun baru itu kami habiskan dengan dugem, dan itu terakhir kali nya dugem.
Sebelum bisa nyari uang sendiri, uang yang saya dapat dari orang tua cuma cukup untuk makan dan kebutuhan basic, untuk yang lain-lain harus dengan strategi. Masuk diskotik di kota Semarang kurang lebih seratus ribu rupiah, harga yang lumayan untuk makan enak. All you can eat di shabu auce hanya seratus lima belas ribu sudah termasuk pajak. See, kalo kamu masih membandingkan harga sesuatu sebelum membeli nya artinya kamu belum kaya, jadi stop boros hahahaha.
Menurut saya jangan dugem kalo uang mu pas-pasan, jangan banyak gaya kalo uang mu ga sebanyak gaya mu.
Jangan dugem dulu kalo masih naik motor matic kaya saya hahaha
Tunggu punya mobil, kalo mobil nya masih ayla juga jangan, mending buat bayar cicilan mobil
Daripada dugem mending makan di restoran all you can eat deh. Atau order Mc donalds pakai aplikasi mereka, first order dapet big mac.
Bukan sponsor, mana ada yang mau sponsorin podcast ini hahaha.
Be wise!
Friday, November 4, 2016
Manuskrip untuk episode 7: 411
Mari dimulai dengan akar penyebab nya: video bapak gubernur DKI Jakarta bapak Basuki Tjahaya Purnama a.k.a Ahok yang diupload pertama kali oleh orang bernama Buni Yani.
Isi video yang Buni Yani upload adalah perkataan Ahok yang mengatakan bahwa jangan mau dibodohi dengan Al Maidah ayat 51. Gempar lah negara ini, negara yang memegang rekor sebagai negara muslim terbesar di dunia ini.
"Jangan mau dibodohi al maidah ayat 51"
Itu isi perkataan Ahok di video yang diupload Buni Yani. Wajar sekali orang islam di Indonesia muntab hati nya, marah sekali, kitab suci nya dilecehkan
Tapi ternyata, video itu tidak lengkap. Menurut Buni Yani di sebuah acara televisi (indonesia lawyer club CMIIW) yang mengupload video tersebut, seharusnya ada kata "pakai" di kalimat yang dikatakan Ahok.
Kalimat asli nya adalah "jangan mau dibodohi pakai al maidah ayat 51"
Arti dua kalimat itu sangat berbeda.
Dan ini lah yang menjadi awal aksi pengerahan massa di tanggal 4 November.
Tapi, apapun yang Ahok katakan, dia salah. Slip tongue. Tak seharusnya Gubernur berkata seperti itu, masih banyak kalimat lain yang bisa dipakai.
Sebuah kewajaran juga ummat islam di Indonesia ingin ada keadilan di kasus dugaan penistaan agama, tapi kasus ini bahkan sudah naik ke kepolisian sebelum tanggal 4 November 2016, jadi tuntutan demonstran sebenarnya sudah dipenuhi.
Lalu apa yang diinginkan para demonstran? Tergantung. Tergantung darimana mereka berasal.
Ada yang memang ingin Ahok segera diadili, viola. Mereka dapat yang mereka mau.
Ada juga yang cuma ingin rusuh, liat demonstran setelah pukul 18.00. Bahkan mereka tidak berpakaian seperti para demonstran di siang hari. Ini sudah beda orang, ini bukan yang mengatas namakan agama. They just want watch world burned.
Ada juga tokoh-tokoh politik sakit hati yang bertujuan lain, saya tidak mau menyebut nama, tapi coba liat twit seseorang yang berada di DPR, jahat sekali. Membuat panas keadaan.
Aksi massa kemarin sangat sarat tujuan politik.
Ummat Islam yang tidak setuju demo 411
Saya salah satu nya. Saya tidak setuju karena somehow saya tau akan ada aksi kerusuhan yang bukan demonstran lakukan tapi tetap demonstran yang kena getahnya.
Kalau kita, sebagai warga Indonesia menggunakan hak kita untuk bisa mengeluarkan aspirasi dengan cara demo, bukankah kita juga harus mematuhi kewajiban kita sebagai warga Indonesia yang mengharuskan kita memahami bahwa semua pelanggaran hukum ada proses nya, tidak mungkin Ahok langsung divonis bersalah oleh pengadilan berapapun jumlah kita di jalan.
Untuk yang mengatakan siapa yang tidak mendukung demo ini padahal Islam maka Islam nya dipertanyakan, tidak cinta kepada agama dan kitab suci nya.
Dicap liberal & mendukung orang kafir.
Apakah memang hanya ada dua pilihan saja? Dukung atau dipertanyakan ke islamannya?
Padahal tidak, mereka hanya tidak suka keributan, buat apa.
Bagaimana kalau mereka bahkan tidak merasa Ahok menghina Al Quran?
Tidak semua pemahaman Agama nya tinggi. Ada yang pemahaman agama nya rendah jadi tidak melakukan apa-apa karena tidak paham, ada juga yang pemahaman agama nya rendah jadi ekstrem karena tidak memahami agama nya dengan baik.
Untuk yang tidak berdemo, jangan juga merendahkan mereka yang berdemo, kita sama. Sama-sama beragama islam, hanya beda cara pandang dan memahami sesuatu.
Lakukan yang menurut kita baik, tapi jangan membuat yang lain jadi buruk.
Dengarkan versi lengkap nya di podcast besok senin eps. 7 ya!


