Friday, March 3, 2017

Cukup sah tanpa wah // manuskrip episode 24



Sebuah manuskrip untuk episode 24

Untuk anak-anak yang lahir di tahun 90an awal, tahun 2017 adalah tahun nya kita sering pake baju batik tiap akhir pekan nya. Undangan menikah setiap bulan hampir selalu ada. Pertanyaan kapan nikah juga mulai buat telinga merah.

Di banyak episode podcast gue sering bilang kalo gue adalah orang yang ga begitu yakin akan pernikahan, seenggaknya pernikahan usia muda, bukan karena ga siap tapi gue agak skeptis aja.

Hari Kamis tanggal 2 Maret 2017 gue janjian untuk ngobrol-ngobrol Sholeh, dia teman kuliah gue yang udah menikah. Usia saat menikahnya menurut gue cukup muda, 23 tahun. Alasan Sholeh menikah menurut gue sangat unik, di usia nya yang 23 menurut dia udah ga ada pencapaian yang lebih tinggi lagi, udah selesai S2, udah dapet pekerjaan yang oke, mulai buat bisnis. Apa lagi? Sisa menikah.

"Nikah tuh harus nya yang murah-murah aja gausah lah yang bermewah-mewah aja"

"Nikah tuh enak nya murah terus uang resepsi nya dipake honeymoon keliling eropa atau dp rumah & mobil"

Jangan ngomong gitu ke sesama orang umur 24-25 an lah, kita juga tau itu hahaha, yang ga tau kan orang tua kita. Ingat orang tua kita menganggap resepsi pernikahan anaknya sebagai sesuatu yang bisa mereka banggain lho.

Kita sih enak bisa pamer kehidupan di path, instagram, twitter and other social media out there, mereka? Gabisa.

Terus gimana? Komunikasi.

Bilang ke mereka apa yang kita mau & apa yang bisa kita kasih.

Karena yang penting sah nya, bukan wah nya.

Gue gamau nulis panjang-panjang karena nanti dianggap sotoy haha, tunggu aja di episode 24 podcast besok senin ya!

Monday, February 27, 2017

Apakah seni ada batas nya? (Tanggapan tentang #makanmayit)


Minggu malam instagram tiba-tiba heboh sama hashtag #makanmayit . Hashtag yang super creepy buat banyak orang, pas pertama baca langsung inget sama Mr Sumanto, Hannibal Lecter nya Indonesia, orang yang pernah bikin heboh Indonesia tahun 2003.

Setelah gue coba cari-cari info soal #makanmayit di twitter & instagram akhirnya end up di akun instagram nya pemilik acara #makanmayit @roodkapje a.k.a Natasha Gabriella Tontey. Pertama kali buka akun itu ternyata akunnya dilock, jadi gabisa liat apa isi nya, beruntung ada link wawancara dia sama Vice Indonesia, disitu dia cerita tentang latar belakang kenapa dia adain acara #makanmayit ini.

Gue ga mau cerita apa yang udah ada di wawancaranya dia sama vice, gue mau bahas tentang reaksi netizen di instagram & twitter tentang #makanmayit ini.

Sebelum itu, mari samakan perspektif, gue ga pro si Natasha ini dan ga juga kontra, kenapa? Buat apa gue dukung, gue ga kenal dia dan kalo gue dukung gue bakalan diserang netizen, gue ga kuat meeen diserang-serang gitu di social media, tadi aja pas gue komen "guys pada tau kan ini bukan asli" di salah satu foto yang isi nya komentar kontra acara ini, ada yang nyerang gue, dia bilang gue ga peka, ga mikirin perasaan perempuan terutama ibu.

Cmooooon gila apa gue ga mikirin perasaan perempuan terutama ibu? I'll jump from eurostar if my mom asked me, like seriously.

Jadi mari berasusmi gue netral, dan memang gue netral.

Kebanyakan netizen yang ga setuju acara ini berkomentar kalo si seniman ini gila, cendrung ke psikopat karena bisa-bisa nya ngadain acara yang gila kaya gini. Selain bentuk makanannya mirip fetus (janin) bayi, ternyata menurut Natasha, bahan baku yang dipake juga cukup ganjil, ada keju hasil fermentasi asi & roti dengan bakteri dari ketek bayi, disajikan di dalam boneka bayi yang termutilasi dan dibredel sebagai piring.

Boleh aja kok lo ga setuju sama suatu hal, sama suatu pemikiran orang, sama cara dia berprilaku atau apapun deh, asal satu, jangan fisiknya, jangan sesuatu yang dia gabisa ubah, nah gue masih liat ada netizen yang menghina si Natasha ini ke arah fisiknya, kalo kita tadi ga setuju sama dia karena dia ga peka karena pake bayi sebagai objek dan membawa-bawa embel seperti "sebagai wanita" "sebagai ibu" "sebagai orang normal" harusnya jangan hina dia ke arah fisiknya. Silakan aja ga setuju sama cara dia representasikan karya nya.

Gue orangnya agak jijik-an, dulu ada tren makan di mangkok bentuk kloset gue geli, tapi yang ini gue ga begitu jijik sih, cuma kalo diajak makan gue ga mau aja.

Komentar di akun instagram Natasha (@roodkapje) penuh sama hujatan netizen yang ga setuju dan menganggap kalo Natasha dan ekspresi seni nya udah kelewatan, kejauhan melencengnya, ga sesuai sama budaya Indonesia.

Terus timbul pertanyaan di otak gue, apakah memang seni ada batas nya atau engga? Gue gatau jawaban pasti nya apakah seni ada batasnya atau ga, tapi menurut gue sekarang adalah: seni itu ga ada batas nya, yang ada batasnya adalah pelaku seni nya. Si seniman ini punya batas sebagai manusia dengan hubungan antara sesama, budaya tempat dia melakukan pentas seni nya, dan banyak hal lainnya yang membuat si seniman itu menjadi terbatas dalam berekspresi.

Lucunya kreatifitas itu justru keluar ketika semua serba terbatas, ketika banyak tembok di sekeliling nya. Gue pernah diskusi sama temen gue tentang ini, dia menganalogikan ada 2 orang yang sama-sama hebat dalam berkesenian, yang satu dikasih semua fasilitas terbaik yang bisa didapatkan dan yang satu lagi dimasukin ke ruang isolasi dan hanya dikasih pensil dan kertas. Dua-dua nya diminta buat satu karya seni, bebas apapun juga dengan peralatan yang udah dikasih. Kalo orang pertama yang dikasi semua fasilitas bikin karya spektakuler tentu orang akan bilang wajar, karena semua fasilitas menunjang, tapi kalo orang kedua yang buat karya seni yang bagus banget (ga spektakuler) tentu orang akan sangat kagum, karena dengan keterbatasan fasilitas dia masih bisa bikin karya yang oke. 

Gue belom yakin sama jawaban yang gue temukan sih sebenernya tapi akan gue sempurnakan karena ini harus gue tau jawaban pasti nya, gue juga berkarya, gue buat sesuatu dan gue ga mau kalo ternyata karya gue malah buat gue ga nyaman, gue bukan orang yang kuat dikritik haha, kalo gue jadi kaya Young Lex atau Awkarin gitu gue ga kuat sih hahaha.

Mari bijak berkarya dan mari bijak bersosial media.

Yaudah sampe sini dulu ya, mungkin bakalan gue bahas di backstage talk episode 2 kali ya masalah ini.

Wednesday, February 22, 2017

Menunggu ada Public hearing.

Public speaking adalah salah satu ability yang ingin dimiliki oleh hampir seluruh orang di dunia, cara agar tidak grogi di depan banyak orang, berbicara dengan lancar dan hal-hal semacam itu.

Padahal kalo emang ga ada yang perlu lo omongin di depan panggung ya gausah belajar public speaking juga gapapa kan, toh ga butuh juga skill itu.

Sebenernya ada skill yang lebih penting, yaitu skill mendengarkan, bukan sembarang mendengar tapi memahami dan menghormati lawan bicara.

Gue pribadi adalah orang yang lebih sering mendengar untuk membalas, sebelum lawan bicara selesai bicara di otak gue udah ada sekian opsi jawaban untuk menjawab argumen yang lawan bicara lontarkan, kadang ditambah ucapan untuk merendahkan lawan bicara gue, for the sake of anything, I know about it but I can't resist my self to do that and I am very shame. every single time after I said something with mocking purpose, I am very shame and dead inside.

Gue sangat suka debat, karena gue sangat yakin apa yang jadi argumen gue dan gue selalu meyakini lawan debat gue itu bajingan dan ga tau apa-apa, ternyata kadang gue salah, gue cuma ngasih makan ego gue aja.

Usia belasan adalah usia ketika gue hampir ga pernah dengerin orang lain, gue kadang berantem sama orang tua karena masalah sepele, putus dari hubungan karena gue ga mau dengerin saran dari dia, I was an asshole before haha.

Sekarang gue nyoba untuk lebih banyak mendengar, mendengar untuk memahami bukan untuk membalas. Gue ga mau jadi kaya calon gubernur yang ketika debat kelihatan ga peduli apapun yang lawannya omongin kecuali nyari celah buat bales argumennya, apakah itu esensi debat? Kalo gitu mah gausah debat, toh pemilih juga udah tau siapa yang dipilih kan?

Thursday, February 16, 2017

Tutorial hidup [belum tau jadi topik di besok Senin eps berapa]

Halo! it's been awhile tidak menulis manuskrip podcast karena gue pikir sangat berat untuk konsisten menulis haha, tapi gue akan coba, semoga konsisten.

Tutorial Hidup

Akhir-akhir ini gue sering nontonin youtube nya Anugrah Aditya yang ngebahas tentang sneakers, salah satu channel keren yang entah kenapa subscribernya di bawah 10.000. He deserves more than that. Di channel itu ternyata ada satu tutorial: how to pin roll. Apa itu pin roll? Ternyata itu tutorial menggulung celana. Iya gulung celana ada tutorialnya! Ga cuma hijab yang ada tutorialnya, dan ternyata sangat bermanfaat tutorial pin roll itu buat gue.

Tapi dipikir-pikir sekarang semua ada video tutorialnya, dari hal-hal ngurus Paspor sampe ganti popok ada semua video tutorialnya, kita sekarang sebagai orang yang disebut netizen ini enak banget ya, cuma klak-klik youtube ada semua tutorialnya, youtube adalah guru terbaik sekarang, fuck you pengalaman! Youtube youtube youtube lebih dari pengalaman.

Netizen Indonesia sekarang emang lagi gandrung banget sama youtube, hobi nonton daripada baca, budaya baca makin ditinggalin.

Friday, November 18, 2016

Manuskrip untuk episode 9: Dugem

Saya ga suka dugem, walaupun beberapa kali pernah. Bukan karena suka tapi lebih untuk aksi sosial, teman-teman ngajak dugem masa ditolak hahaha.

Saya juga ga suka minum-minuman beralkohol, tapi beberapa kali minum, hmmm ga beberapa kali sih, agak sering tapi dulu, malam tahun baru 2014 sepertinya terakhir saya minum, itu juga karena malam tahun baru itu kami habiskan dengan dugem, dan itu terakhir kali nya dugem.

Sebelum bisa nyari uang sendiri, uang yang saya dapat dari orang tua cuma cukup untuk makan dan kebutuhan basic, untuk yang lain-lain harus dengan strategi. Masuk diskotik di kota Semarang kurang lebih seratus ribu rupiah, harga yang lumayan untuk makan enak. All you can eat di shabu auce hanya seratus lima belas ribu sudah termasuk pajak. See, kalo kamu masih membandingkan harga sesuatu sebelum membeli nya artinya kamu belum kaya, jadi stop boros hahahaha.

Menurut saya jangan dugem kalo uang mu pas-pasan, jangan banyak gaya kalo uang mu ga sebanyak gaya mu.

Jangan dugem dulu kalo masih naik motor matic kaya saya hahaha

Tunggu punya mobil, kalo mobil nya masih ayla juga jangan, mending buat bayar cicilan mobil

Daripada dugem mending makan di restoran all you can eat deh. Atau order Mc donalds pakai aplikasi mereka, first order dapet big mac.

Bukan sponsor, mana ada yang mau sponsorin podcast ini hahaha.

Be wise!

Friday, November 4, 2016

Manuskrip untuk episode 7: 411

Mari dimulai dengan akar penyebab nya: video bapak gubernur DKI Jakarta bapak Basuki Tjahaya Purnama a.k.a Ahok yang diupload pertama kali oleh orang bernama Buni Yani.

Isi video yang Buni Yani upload adalah perkataan Ahok yang mengatakan bahwa jangan mau dibodohi dengan Al Maidah ayat 51. Gempar lah negara ini, negara yang memegang rekor sebagai negara muslim terbesar di dunia ini.

"Jangan mau dibodohi al maidah ayat 51"

Itu isi perkataan Ahok di video yang diupload Buni Yani. Wajar sekali orang islam di Indonesia muntab hati nya, marah sekali, kitab suci nya dilecehkan

Tapi ternyata, video itu tidak lengkap. Menurut Buni Yani di sebuah acara televisi (indonesia lawyer club CMIIW) yang mengupload video tersebut, seharusnya ada kata "pakai" di kalimat yang dikatakan Ahok.

Kalimat asli nya adalah "jangan mau dibodohi pakai al maidah ayat 51"

Arti dua kalimat itu sangat berbeda.

Dan ini lah yang menjadi awal aksi pengerahan massa di tanggal 4 November.

Tapi, apapun yang Ahok katakan, dia salah. Slip tongue. Tak seharusnya Gubernur berkata seperti itu, masih banyak kalimat lain yang bisa dipakai.

Sebuah kewajaran juga ummat islam di Indonesia ingin ada keadilan di kasus dugaan penistaan agama, tapi kasus ini bahkan sudah naik ke kepolisian sebelum tanggal 4 November 2016, jadi tuntutan demonstran sebenarnya sudah dipenuhi.

Lalu apa yang diinginkan para demonstran? Tergantung. Tergantung darimana mereka berasal.

Ada yang memang ingin Ahok segera diadili, viola. Mereka dapat yang mereka mau.

Ada juga yang cuma ingin rusuh, liat demonstran setelah pukul 18.00. Bahkan mereka tidak berpakaian seperti para demonstran di siang hari. Ini sudah beda orang, ini bukan yang mengatas namakan agama. They just want watch world burned.

Ada juga tokoh-tokoh politik sakit hati yang bertujuan lain, saya tidak mau menyebut nama, tapi coba liat twit seseorang yang berada di DPR, jahat sekali. Membuat panas keadaan.

Aksi massa kemarin sangat sarat tujuan politik.

Ummat Islam yang tidak setuju demo 411

Saya salah satu nya. Saya tidak setuju karena somehow saya tau akan ada aksi kerusuhan yang bukan demonstran lakukan tapi tetap demonstran yang kena getahnya.

Kalau kita, sebagai warga Indonesia menggunakan hak kita untuk bisa mengeluarkan aspirasi dengan cara demo, bukankah kita juga harus mematuhi kewajiban kita sebagai warga Indonesia yang mengharuskan kita memahami bahwa semua pelanggaran hukum ada proses nya, tidak mungkin Ahok langsung divonis bersalah oleh pengadilan berapapun jumlah kita di jalan.

Untuk yang mengatakan siapa yang tidak mendukung demo ini padahal Islam maka Islam nya dipertanyakan, tidak cinta kepada agama dan kitab suci nya.

Dicap liberal & mendukung orang kafir.

Apakah memang hanya ada dua pilihan saja? Dukung atau dipertanyakan ke islamannya?

Padahal tidak, mereka hanya tidak suka keributan, buat apa.

Bagaimana kalau mereka bahkan tidak merasa Ahok menghina Al Quran?

Tidak semua pemahaman Agama nya tinggi. Ada yang pemahaman agama nya rendah jadi tidak melakukan apa-apa karena tidak paham, ada juga yang pemahaman agama nya rendah jadi ekstrem karena tidak memahami agama nya dengan baik.

Untuk yang tidak berdemo, jangan juga merendahkan mereka yang berdemo, kita sama. Sama-sama beragama islam, hanya beda cara pandang dan memahami sesuatu.

Lakukan yang menurut kita baik, tapi jangan membuat yang lain jadi buruk.

Dengarkan versi lengkap nya di podcast besok senin eps. 7 ya!